Revitalisasi Pancasila Sebagai Pondasi Multikulturalisme Dalam Masyarakat Indonesia Modern

(1) * Dianita Sahda Mail (Universitas Negeri Medan, Indonesia)
(2) Hadriana Sihombing Mail (Universitas Negeri Medan, Indonesia)
(3) Joel Alfian S Gulo Mail (Universitas Negeri Medan, Indonesia)
(4) Amirul Fadillah Siregar Mail (Universitas Negeri Medan, Indonesia)
(5) Fidelis Simbolon Mail (Universitas Negeri Medan, Indonesia)
(6) Rachmat Daffa Rabbani Mail (Universitas Negeri Medan, Indonesia)
(7) Sri Yunita Mail (Universitas Negeri Medan, Indonesia)
*corresponding author

Abstract


Indonesia sebagai negara dengan keberagaman etnis, agama, dan budaya yang sangat tinggi menghadapi tantangan serius dalam menjaga harmoni sosial di era modern. Fenomena intoleransi, polarisasi sosial, dan melemahnya kohesi nasional menunjukkan urgensi untuk merevitalisasi nilai-nilai fundamental yang menjadi landasan persatuan bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran strategis Pancasila sebagai pondasi multikulturalisme dalam konteks masyarakat Indonesia kontemporer, mengidentifikasi tantangan implementasinya, serta merumuskan strategi revitalisasi yang komprehensif dan aplikatif. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis. Data dikumpulkan melalui penelusuran sistematis terhadap 40 sumber literatur meliputi jurnal ilmiah terakreditasi, buku teks, laporan survei lembaga riset independen, dan dokumen kebijakan pemerintah periode 2015-2024. Analisis data dilakukan menggunakan teknik content analysis dengan triangulasi sumber untuk memastikan validitas temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia mengalami tren penurunan toleransi yang signifikan dalam lima tahun terakhir, dengan Indeks Kota Toleran (IKT) menurun dari 6,513 (2020) menjadi 5,891 (2024) dan peningkatan Kota Tidak Toleran dari 14 menjadi 21 kota. Data empiris mengungkapkan 265 pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) pada 2023, mayoritas berbentuk intimidasi dan kriminalisasi. Penelitian ini mengidentifikasi empat strategi revitalisasi komprehensif: (1) transformasi kurikulum pendidikan dengan integrasi nilai Pancasila secara kontekstual; (2) penguatan literasi digital berbasis Pancasila untuk menangkal disinformasi; (3) pemberdayaan kearifan lokal sebagai manifestasi konkret Bhinneka Tunggal Ika; dan (4) penguatan kelembagaan melalui sinergi multi-stakeholder. Kontribusi teoretis penelitian ini adalah pengembangan kerangka konseptual "Pancasila sebagai Epistemologi Multikulturalisme Indonesia" yang membedakan pendekatan multikulturalisme Indonesia dari model Barat. Secara praktis, penelitian ini merekomendasikan implementasi "Gerakan Nasional Literasi Pancasila" dan pembentukan "Pusat Studi Pancasila dan Multikulturalisme" di setiap provinsi sebagai infrastruktur revitalisasi berkelanjutan.


Keywords


Pancasila, Multikulturalisme, Bhinneka Tunggal Ika, Toleransi, Pendidikan Karakter

   

DOI

https://doi.org/10.57235/arrumman.v2i2.7492
      

Article metrics

10.57235/arrumman.v2i2.7492 Abstract views : 0 | PDF views : 0

   

Cite

   

Full Text

Download

References


Anderson, B. (1983). Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso.

Asshiddiqie, J. (2019). Ideologi, Pancasila, dan Konstitusi. Jakarta: Sinar Grafika.

Azra, A. (2007). "Identitas dan Krisis Budaya: Membangun Multikulturalisme Indonesia". Jurnal Masyarakat dan Budaya, 9(1), 23-38.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. (2024). Laporan Tahunan BNPT 2023: Tren Radikalisme di Indonesia. Jakarta: BNPT.

Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik Indonesia 2023. Jakarta: BPS.

Banks, J. A. (2008). "Diversity, Group Identity, and Citizenship Education in a Global Age". Educational Researcher, 37(3), 129-139.

Barry, B. (2001). Culture and Equality: An Egalitarian Critique of Multiculturalism. Cambridge: Polity Press.

Bertrand, J. (2004). Nationalism and Ethnic Conflict in Indonesia. Cambridge: Cambridge University Press.

Budiman, A. (2019). "Reaktualisasi Pancasila di Era Reformasi: Antara Simbolisme dan Substansi". Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, 4(2), 15-28.

Centre for Strategic and International Studies. (2023). Social Media and Political Polarization in Indonesia. Jakarta: CSIS.

Cribb, R. (1999). "Not the Next Yugoslavia: Prospects for the Disintegration of Indonesia". Australian Journal of International Affairs, 53(2), 169-178.

EU Commission. (2022). Digital Literacy in Europe: Best Practices from Finland. Brussels: European Commission.

Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.

Hadiz, V. R. (2016). Islamic Populism in Indonesia and the Middle East. Cambridge: Cambridge University Press.

Hefner, R. W. (2001). Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Princeton: Princeton University Press.

Kaelan. (2018). Filsafat Pancasila: Pandangan Hidup Bangsa Indonesia. Yogyakarta: Paradigma.

Kementerian Komunikasi dan Informatika. (2023). Survei Literasi Digital Indonesia 2023. Jakarta: Kominfo.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. (2023). Laporan Tahunan Komnas HAM 2023. Jakarta: Komnas HAM.

Kymlicka, W. (1995). Multicultural Citizenship: A Liberal Theory of Minority Rights. Oxford: Clarendon Press.

Latif, Y. (2020). Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila. Jakarta: Gramedia.

LSI Denny JA. (2023). Survei Nasional tentang Toleransi Beragama di Indonesia. Jakarta: LSI.

Maarif Institute. (2023). Transnational Ideological Networks and Social Media in Indonesia. Jakarta: Maarif Institute.

Notonagoro. (1975). Pancasila Secara Ilmiah Populer. Jakarta: Pancuran Tujuh.

Parekh, B. (2000). Rethinking Multiculturalism: Cultural Diversity and Political Theory. London: Palgrave Macmillan.

Pusat Studi Pancasila UGM. (2022). Survei Pemahaman Pancasila di Kalangan Mahasiswa. Yogyakarta: PSP UGM.

Sen, A. (2006). Identity and Violence: The Illusion of Destiny. New York: W. W. Norton.

Setara Institute. (2023). Laporan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan 2023. Jakarta: Setara Institute.

Soekarno. (1945). "Lahirnya Pancasila". Pidato pada Sidang BPUPKI, 1 Juni 1945. Jakarta.

Taylor, C. (1994). "The Politics of Recognition". In A. Gutmann (Ed.), Multiculturalism: Examining the Politics of Recognition (pp. 25-73). Princeton: Princeton University Press.

Tilaar, H. A. R. (2021). Pendidikan Multikultural dan Revitalisasi Hukum Adat dalam Perspektif Pancasila. Jakarta: Kompas.

Wahid Foundation. (2024). Laporan Tahunan Kebebasan Beragama dan Intoleransi 2024. Jakarta: Wahid Foundation.

Winarno. (2020). "Paradigma Baru Pendidikan Pancasila untuk Generasi Digital Native". Citizenship: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, 8(1), 1-15.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2025 Dianita Sahda, Hadriana Sihombing, Joel Alfian S Gulo, Amirul Fadillah Siregar, Fidelis Simbolon, Rachmat Daffa Rabbani, Sri Yunita

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.